Entah sejak kapan media sosial bertransformasi dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan pokok? Kian hari media sosial semakin tidak terlepas dari kehidupan manusia. Kita bebas mengakses media sosial kapanpun dan di manapun. Dengan mudah kita bisa menjumpai orang-orang tengah mengakses informasi melalui media sosial. Facebook, Twitter, Instagram bukanlah hal yang asing di telinga kita.
Perkembangan perangkat komunikasi yang kian pesat turut serta menunjang kemudahan akses internet. Jika dahulu kita sudah puas dengan ponsel yang dilengkapi kamera, kini hal itu tidaklah cukup. Saat ini ponsel haruslah dilengkapi dengan berbagai aplikasi canggih termasuk beberapa aplikasi media sosial.
Awalnya media sosial hanya dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyambung tali silaturrahmi antar teman atupun keluarga. Media sosial mampu mendekatkan kembali kerabat yang sudah jauh, entah itu karena pindah sekolah ataupun pindah ke luar kota. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat pun memanfaatkan media sosial secara beragam. Dari kalangan pelajar, media sosial digunakan sebagai sarana untuk berbagi ilmu. Dari kalangan pebisnis, media sosial digunakan sebagai sarana untuk memasarkan produknya. Tapi tidak semua orang memanfaatkan media sosial secara baik. Ada juga yang justru menggunakan media sosial secara negatif, misalnya prostitusi online dan mudahnya orang menyebar video mesum.
Pada dasarnya penggunaan media sosial dapat digunakan secara positif dn negatif. Semua tergantung dari bagaimana cara kita menyikapinya. Jika kita menggunakannya dengan baik maka banyak pula manfaat yang diperoleh, seperti menambah pengetahuan, menambah teman untuk saling bertukar pikiran tentang hal-hal terbaru yang terjadi di sekitar kita.
Akan tetapi, jika kita kurang bijak dalam menggunakan media sosial, maka kita akan terjerumus ke dalam hal-hal negatif. Beberapa waktu yang lalu, dunia maya dihebohkan dengan beredarnya video penganiayaan seorang siswi SMP oleh 3 orang perempuan. Ketiga perempuan tersebut mengaku kesal lantaran korban membuat akun palsu yang mengatasnamakan salah satu pelaku. Akun tersebut digunakan untuk prostitusi online. Pelaku pun marah dan mengajak kedua rekannya untuk melabrak si korban. Hal yang bisa kita lihat dari sini adalah bagaimana media sosial bisa memicu pertengkaran akibat salah penggunaan. Salah sedikit malah akan berujung pada tindak kriminal. Meski demikian, ada juga hal positif yang dilihat dari hal tersebut, yakni dengan mudahnya penyebaran informasi, maka pihak kepolisian pun tidak kesulitan menemukan pelaku.
Tapi yang paling menghebohkan baru-baru ini adalah video pidato gubernur DKI Jakarta, Ahok, yang diunggah ke media sosial Youtube. Video tersebut menjadi viral karena dalam pidatonya tersebut Ahok menyinggung tentang Surah Al-Maidah ayat 51. Hal itu tentu saja memancing kemarahan umat Islam di Indonesia mengingat Ahok bukanlah seorang Muslim. Akhirnya Sang Petahana Jakarta itupun harus rela ditetapkan sebagai tersangka kasus penistaan agama.
Kedua kejadian tersebut merupakan cermin dari penggunaan media sosial yang tidak bijak. Media sosial mestinya digunakan secara baik agar mendatangkan lebih banyak manfaat. Namun bukan tidak mungkin kita tidak pernah melakukan kesalahan. Kelahana itu kadang datang bahkan jika kita telah berhati-hati. Maka dari itu bijaklah dalam bersosial media.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar