Jumat, 23 Desember 2016

Toleransi dalam Kehidupan Beragama

Manusia sebagai makhluk sosial dituntut untuk mampu berinteraksi dengan individu lain dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Kita sebagai individu akan dihadapkan pada kelompok-kelompok yang berbeda, salah satunya adalah perbedaan ras dan agama. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal ini akan menimbulkan gesekan-gesekan yang dapat terjadi antar kelompok masyarakat, baik yang berkaitan dengan ras maupun agama.

Sikap saling menghormati dan  menghargai pun sangat diperlukan demi menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan, khususnya di Indonesia yang notabene merupakan negara multikultural. Hal itu diperlukan untuk menghindari gesekan-gesekan yang dapat memicu pertikaian mengingat telah banyak konflik yang dilatarbelaangi oleh perbedaan tersebut. Disinilah pentingnya toleransi diterapkan.

Toleransi adalah sikap memberikan kebebasan bagi orang lain untuk mengeluarkan pendapat sendiri yang berbeda dengan pendapat kita, tanpa kita ganggu ataupun intimidasi. Dalam konteks sosial, budaya, dan agama, yakni sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok tertentu yang berbeda dari kita atau tidak sesuai dengan kelompok mayoritas dalam suatu masyarakat. Misalnya toleransi beragama, dimana penganut agama mayoritas dalam suatu masyarakat menghormati keberadaan agama ataupun kepercayaan minoritas.

Negara Indonesia dengan kemajemukannya tentu sangat sensitif dengan isu berbau SARA. Dengan adanya kesadaran akan toleransi dalam kehidupan beragama, maka akan terjalin hubungan harmonis antar warga negara yang pada akhirnya akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

Kamis, 24 November 2016

Kapan Nikah???

Sepertinya bulan ini memang bulan nikah. Kenapa saya bilang begitu? Karena sepanjang bulan November ini sudah ada lebih dari 5 undangan yang di antar ke rumah. Mulai dari keluarga hingga teman. Dalam sehari bahkan ada 3 pesta pernikahan yang harus dihadiri. Alhasil jadilah pesta itu didatangi satu per satu meskipun dengn waktu yang sangat mepet.

Jika sudah begini, maka pertanyaan seperti "kapan nikah?" pun akan mulai membanjiri telinga. Siapkan saja jawaban untuk pertanyaan itu. Maua dijawab serius atau bercanda juga tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah saat kita justru menangis karena pertanyaan itu. Sedih memang tapi tak perlu berlarut-larut lah. Semua akan indah saat kita pun telah menemukan sang pujaan hati. Repot juga kan kalau mau nikah tapi calonnya belum ada.

Menikah bukan hanya sekedar menautkan dua hati. Tapi juga ada tanggung jawab yang lebih besar. Menyatukan dua keluarga, apalagi yang berbeda suku, dan masih banyak lagi. Banyak hal yang mesti dipikirkan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Bukan hanya soal cinta, tapi hal-hal seperti finansial juga harus dipertimbangkan.

Okelah mungkin saya menulis ini karean saya masih belum ingin, atau mungkin belum siap, melepas masa single. Tapi semua tergantung pada pribadi masing-masing orang. Jika memang dirasa sudah siap yah tunggu apa lagi???

Bijak dalam Bersosial Media

Entah sejak kapan media sosial bertransformasi dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan pokok? Kian hari media sosial semakin tidak terlepas dari kehidupan manusia. Kita bebas mengakses media sosial kapanpun dan di manapun. Dengan mudah kita bisa menjumpai orang-orang tengah mengakses informasi melalui media sosial. Facebook, Twitter, Instagram bukanlah hal yang asing di telinga kita.

Perkembangan perangkat komunikasi yang kian pesat turut serta menunjang kemudahan akses internet. Jika dahulu kita sudah puas dengan ponsel yang dilengkapi kamera, kini hal itu tidaklah cukup. Saat ini ponsel haruslah dilengkapi dengan berbagai aplikasi canggih termasuk beberapa aplikasi media sosial.

Awalnya media sosial hanya dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyambung tali silaturrahmi antar teman atupun keluarga. Media sosial mampu mendekatkan kembali kerabat yang sudah jauh, entah itu karena pindah sekolah ataupun pindah ke luar kota. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat pun memanfaatkan media sosial secara beragam. Dari kalangan pelajar, media sosial digunakan sebagai sarana untuk berbagi ilmu. Dari kalangan pebisnis, media sosial digunakan sebagai sarana untuk memasarkan produknya. Tapi tidak semua orang memanfaatkan media sosial secara baik. Ada juga yang justru menggunakan media sosial secara negatif, misalnya prostitusi online dan mudahnya orang menyebar video mesum.

Pada dasarnya penggunaan media sosial dapat digunakan secara positif dn negatif. Semua tergantung dari bagaimana cara kita menyikapinya. Jika kita menggunakannya dengan baik maka banyak pula manfaat yang diperoleh, seperti menambah pengetahuan, menambah teman untuk saling bertukar pikiran tentang hal-hal terbaru yang terjadi di sekitar kita. 

Akan tetapi, jika kita kurang bijak dalam menggunakan media sosial, maka kita akan terjerumus ke dalam hal-hal negatif. Beberapa waktu yang lalu, dunia maya dihebohkan dengan beredarnya video penganiayaan seorang siswi SMP oleh 3 orang perempuan. Ketiga perempuan tersebut mengaku kesal lantaran korban membuat akun palsu yang mengatasnamakan salah satu pelaku. Akun tersebut digunakan untuk prostitusi online. Pelaku pun marah dan mengajak kedua rekannya untuk melabrak si korban. Hal yang bisa kita lihat dari sini adalah bagaimana media sosial bisa memicu pertengkaran akibat salah penggunaan. Salah sedikit malah akan berujung pada tindak kriminal. Meski demikian, ada juga hal positif yang dilihat dari hal tersebut, yakni dengan mudahnya penyebaran informasi, maka pihak kepolisian pun tidak kesulitan menemukan pelaku.

Tapi yang paling menghebohkan baru-baru ini adalah video pidato gubernur DKI Jakarta, Ahok, yang diunggah ke media sosial Youtube. Video tersebut menjadi viral karena dalam pidatonya tersebut Ahok menyinggung tentang Surah Al-Maidah ayat 51. Hal itu tentu saja memancing kemarahan umat Islam di Indonesia mengingat Ahok bukanlah seorang Muslim. Akhirnya Sang Petahana Jakarta itupun harus rela ditetapkan sebagai tersangka kasus penistaan agama.


Kedua kejadian tersebut merupakan cermin dari penggunaan media sosial yang tidak bijak. Media sosial mestinya digunakan secara baik agar mendatangkan lebih banyak manfaat. Namun bukan tidak mungkin kita tidak pernah melakukan kesalahan. Kelahana itu kadang datang bahkan jika kita telah berhati-hati. Maka dari itu bijaklah dalam bersosial media. 

Minggu, 30 Oktober 2016

Pakaian sebagai Identitas Diri

Pakaian sejatinya bukan hanya sekedar penutup tubuh. Namun pakaian menyimpan makna lain yakni sebagai penanda identitas. Melalui pakaian seseorang bisa diketahui karakter dan kepribadiannya. Kita juga bisa mengetahui status sosial seseorang dan dari mana ia berasal hanya dengan melihat pakaian yang dikenakannya.

Hubungan antara pakaian dengan identitas seseorang terlihat sangat jelas. Pakaian merupakan salah satu bentuk produk kebudayaan yang senantiasa mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Dahulu, ketika Indonesia belum merdeka, setiap daerah mengenakan pakaian khas daerah masing-masing sebagai bentuk identitas kedaerahan. Namun, kedatangan Belanda di Indonesia dengan membawa tren berpakaian ala Eropa mau tidak mau turut berpengaruh terhadap pakaian kaum pribumi. Kaum pribumi yang mengenakan pakaian khas daerah dianggap sebagai tradisi sementara mengenakan pakaian Eropa dijadikan sebagai simbol dari sebuah kemajuan. 

Pakaian Eropa dianggap sebagai bentuk kebebasan tanpa aturan dalam menjalankan aktivitas. Kaum pribumi saat itu pun lebih nyaman dengan pakaian gaya Barat, khususnya kaum elit pribumi yang terpelajar. Mereka merupakan simbol dari kebangkitan nasional. Dengan berpakaian ala barat, mereka seolah ingin menampilkan bahwa mereka juga bisa disejajarkan dengan Eropa.

Kini pakaian ala barat tidak hanya dikenakan oleh kaum terpelajar. Pakaian Eropa banyak dijumpai di pusat-pusat perbelanjaan. Bukan berupa gaun panjang menjuntai dengan rok lebar. Tapi pakaian semacam kemeja, jas, maupun dasi, merupakan produk dari barat. Jadi bisa dikatakan bahwa setiap hari kita sedang menikmati budaya barat. Pakaian tradisional Indonesia hanya akan dikenakan jika ada perayaan saja. Namun tak sedikit masyarakat Indonesia yang tetap mengenakan gaun panjang dan jas.

Sekali lagi, pakaian bukan hanya untuk menutupi tubuh dari sengatan matahari atau dari gangguan debu. Tapi bisa juga untuk memberitahu orang lain bagaiamana kita berpikir, hingga dari mana kita berasal.

Ketika Indonesia Berubah Menjadi Kebarat-baratan

Indonesia sebagai salah satu negara yang terletak di kawasan Benua Asia kini tengah dilanda sikap dan budaya kebarat-baratan. Hal itu bisa dilihat dari gaya berpakaian , cara berbicara yang kadang kala menyelipkan kosa kata bahasa Inggris, hingga gaya hidup yang seolah tanpa aturan. Sebenarnya sah-sah saja berkiblat ke Barat jika yang diambil adalah hal-hal bersifat positif, seperti misalnya kemajuan teknologi atau kebersihan kota. Namun justru masyarakat Indonesia sepertinya lebih cenderung mengadopsi hal-hal negatif, misalnya busana yang terlalu minim. Maka bukanlah sesuatu yang aneh jika kemudian bangsa lain akan menganggap bahwa Indonesia adalah bangsa yang tidak memiliki identitas.

Masyarakat Indonesia, khususnya kaum muda perkotaan, cenderung menyelipkan kosa kata bahasa Inggris dalam setiap percakapan. Entah karena gaya hidup atau sekedar ingin terlihat keren, bahasa Inggris sepetinya sudah menjadi suatu keharusan bagi kaum muda dalam pergaulan. Bukanlah hal yang salah jika ingin berbahasa Inggris, tentu hal itu juga bisa menjadi ajang untuk lebih meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Namun jika dilakukan berulang-ulang bukan tidak mungkin jika suatu hari nanti bahasa Indonesia justru hilang karena masyarakat Indonesia sendiri lebih senang berbahasa Inggris.

Masyarakat Indonesia juga cenderung lebih menikmati musik dan lagu dari Eropa maupun Amerika. Alunan musik yang digubah oleh para komposer kelas dunia ditambah dengan lirik lagu  berbahasa Inggris dianggap jauh lebih menarik dibandingkan dengan lagu buatan negeri sendiri. Hanya sedikit masyarakat Indonesia yang masih setia dengan selera musik lokal. Bisa kita lihat kaum muda lebih senang jika diajak berbincang tentang album baru dari musisi luar negeri daripada tentang album baru musisi dalam negeri. Event-event bertema internasional juga selalu laris manis diserbu pengunjung.

Masyarakat Indonesia juga lebih senang dengan film Hollywood dibanding film dalam negeri. Hal itu bisa dilihat dari menjamurnya penonton di bioskop jika yang ditayangkan adalah film Hollywood. Penonton justru sepi jika film yang tayang di bioskop adalah film Indonesia. 

Banyak dari kita yang justru asing dengan budaya negeri sendiri tapi justru lebih akrab dengan kebudayaan bangsa lain. Kita juga kerap membandingkan budaya lokal dengan budaya asing dan menganggap kalau budaya asing lebih bagus dibandingkan dengan budaya sendiri.

Rakyat Indonesia sepertinya masih belum menyadari betapa kayanya negeri ini. Keragaman bahasa, suku, pakaian dan masih banyak lagi tak lantas memubuat kita bangga. Jika di masa depan bangsa Indonesia lebih bangga mendengarkan lagu Barat, bangga berpakaian ala Barat, maka bukan tidak mungkin kebudayaan asli Indonesia akan hilang tergerus zaman. Dan kehilangan itu baru akan terasa saat negara lain mengklaim hal tersebut sebagai miliknya.